Wakaf Pembangunan Menara Masjid Raya Nurul Hidayah

Wakaf Pembangunan Menara Masjid Raya Nurul Hidayah

STATUS , FUNGSI DAN PERANAN MASJID

Masjid sebagai tempat beribadat memiliki banyak aspek terkait statusnya sebagai Rumah Allah yang di muliakan dan disucikan, antara lain adalah adanya tata cara ketentuan syariah saat berada di lingkungan Masjid, fungsi sebagai tempat beribadah sholat, menyalurkan zakat, infak, sadaqoh, belajar membaca dan memahami Al Quran, Hadis, pengajian, diskusi, couching and counseling dan sebagai relawan.

Bagi para pengunjung Masjid, faktor lokasi, lingkungan, taman, pencahayaan, kebersihan, keindahan kenyamanan dan keamanan, yang memberikan kesan yang mendalam, dapat dikondisikan melalui pendekatan Arsitektur, yang meliputi tata ruang, komposisi, interior, warna, lighting, sound system. Salah satu komponen yg dapat mempengaruhi penilaian dari seseorang atau sekelompok orang terhadap sebuah masjid, adalah bangunan Menara.

Kami memandang keberadaan Menara sudah menjadi faktor yang mempengaruhi image sebuah masjid dilingkungan masyarakat Jakarta. Oleh karenanya kami bermaksud untuk membangun Menara sebagai bagian tak terpisahkan dari keberadaan Masjid yang telah berdiri saat ini.

Untuk itu, bersama ini kami sampaikan proposal pembangunan Menara. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih yang setulusnya.

TRANSFORMASI MUSHOLLAH MENJADI ISLAMIC CENTER

Mushollah  Nurul Hidayah Tanah Kusir terletak di simpang tiga Jalan Ciputat Raya dengan  Jalan ke Pemakaman Umum Tanah Kusir, diatas tanah seluas 115 m2 yang merupakan wakaf dari Bapak Harun warga RT 002/ RW 014,  Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Kebutuhan masyarakat akan Masjid yang representatif dan dapat menampung berbagai aktifitas jama’ah, menuntut perlunya rehabilitasi terhadap bangunan Mushollah. Pada saat itu masyarakat bersama tokoh tokoh  yg telah berhimpun dalam organisasi Panitia Hari Besar Islam, bergotong royong merehabilitasi dan memperluas Mushollah dengan biaya  Rp 2.250.000. Kegiatan rehabilitasi dan perluasan Musholla tersebut dapat diselesaikan dalam kurun waktu 3 bulan.

Pada tanggal 5 Agustus 1975, yang bertepatan dengan perayaan Isra Mi’raj, dilaksanakan peresmian perubahan status Musholla  menjadi Masjid.

Seiring berjalannya waktu, pada tanggal 22 Desember 1976, dalam silaturahmi bersama Camat dan pengurus Masjid serta tokoh masyarakat, disepakati pembentukan Badan Hukum Yayasan guna  mengelola Masjid. Yayasan tersebut diberi  nama Yayasan Masjid Raya  Nurul Hidayah Tanah Kusir, dengan Akte No.66 dari Notaris Muhammad Said Tadjoedin. Kepengurusan Yayasan saat ini sebagaimana diperlihatkan pada halaman berikut.

Sejalan dengan perkembangan sarana dan prasarana di lingkungan Jakarta Selatan, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan program pelebaran jalan Bintaro menuju perbatasan antara Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat, yang semula selebar 6 meter menjadi 15 meter.

Pelebaran jalan ini mengakibatkan bangunan Masjid terkena dampaknya. Oleh karenanya Pemerintah memberikan kompensasi ganti untung dalam bentuk tanah seluas 1.000 m2 dan dibangunkannya sebuah Masjid yang dapat menampung lebih dari 300 jama’ah.

Perkembangan Masjid selanjutnya, secara garis besar dibagi dalam 2 periode.

1. Periode Pertama, tahun 1975 s.d 2000

  • Pembebasan tanah seluas 1.078 m2, sehingga lahan masjid yang semula seluas 1.000 m2 menjadi 2.078 m2.
  • Pengajian rutin berjalan, Taman Pengajian Al Quran diikuti 100 anak, santunan untuk Dhuafa 100 keluarga santunan anak yatim 100 anak.
  • Penghimpunan dana ZIS dari tahun ke tahun senantiasa tumbuh berkembang nominalnya.
  • Taman Kanak-kanak tetap berjalan, walaupun tantangan yang dihadapi seperti perubahan demografi dan beroperasinya PAUD, Bimbingan Belajar menyebabkan berkurangnya anak didik yang masuk ke TK

2. Periode Kedua, tahun 2005 s.d 2020

  • Pembangunan Masjid 2 tingkat, dengan masing-masing lantai seluas 600 m2.
  • Dibidang keuangan, selama 7 tahun terakhir telah menggunakan Akuntan Publik.
  • Pembebasan tanah seluas 1.656 m2, sehingga keseluruhan tanah yang dimiliki Yayasan menjadi seluas 3.734 m2.
  • Pada periode ini terselenggara Tablik Akbar yang diberikan oleh Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat dan pengajian Tadabur Al-Quran yang bekerjasama dengan Yayasan Rumah Qu’ran Cahaya Madani yang disampaikan oleh Ustadz Arif Gunawan diselenggarakan 2 kali dalam seminggu.

GAGASAN MEMBANGUN ISLAMIC CENTER

Ide membangun Islamic Center, pada dasarnya bukanlah suatu gagasan yang baru. Beberapa Islamic Center, seperti di Jakarta Utara yang berdiri lebih dari 20 tahun dan di Ampenan, Lombok, merupakan contoh yang seharusnya dapat digunakan sebagai pembanding sebagai raw model. Namun demikian dirasakan belum banyak hal yang dapat dicontoh, sebagai success story yang dapat diterapkan.

Masjid Raya Nurul Hidayah Tanah Kusir berupaya untuk dapat merumuskan bentuk dan program Islamic Center yang akan dibangun dan dikelola, melalui penyelengaraan workshop yang berkaitan dengan Akhlak, Pelayanan, Ketahanan Keluarga, Solidaritas, Komunikasi dalam tataran Rahmatan Lil Alamin

Download Proposal Pembangunan Menara

Leave a comment

Open chat
1
Assalamualaikum
Ada yang dapat kami bantu?