Transkrip Kajian Hadits Masjid Raya Nurul Hidayah

#NgajiFromHome Via Zoom
Masjid Raya Nurul Hidayah

Jum’at, 18 September 2020. Pukul 19.30 WIB

Materi :
Hadits

Kitab Rujukan:
“Arba’una Haditsan Fit Tarbiyah Wal Manhaj”

أربعون حديثا في التربية والمنهج

Karya Syaikh Abdul Aziz as Sadhan

شيخ عبد العزيز بن محمد السدحان

Pemateri:
Ustadz. Muhammad Zul Ikram, Lc.

BAB NIAT

فصل النية

Hadits Pertama

الحديث الأول

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ
قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

” Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khattab di atas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia diniatkan”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dulunya pernah berusaha keras untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Namun setelah masuk Islam beliau adalah sahabat yang menjadi Khalifah dengan gelar Amirul Mukminin yang meneruskan perjuangan Rasulullah SAW.

Maksud hadits ini adalah tentang baik buruknya amal perbuatan itu tergantung dari niat yang kita hadirkan dalam hati. Jika niat itu baik maka hasilnya baik. Namun jika niat itu buruk maka kemungkinan hasilnya buruk.
Contoh seorang yang menjadi iman shalat memanjangkan bacaan surahnya dengan harapan mendapat penilaian bagus dari Ibu yang mempunyai anak perempuan yang ia sukai. Karena niatnya untuk dilihat orang maka hasilnya jadi buruk.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu hanya ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, Allah akan memasukkannya dalam neraka”. (HR. Tirmidzi, no. 2654 dan Ibnu Majah, no. 253. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.)

Akan tetapi jika memanjangkan bacaan surah dalam shalat sebagai bentuk ketaatan dan syukur kepada Allah, pasti hasilnya baik dan pahalanya besar.

Dalam hadits ini ditelaah oleh Syaikh Abdul Aziz as Sadhan dan Syaikh an Nawawi bahwa tingkatan ibadah seorang hamba jika disandingkan dengan niat maka dapat diklasifikasikan dalam beberapa keadaan, diantaranya :

فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك

“Tingkatan niat yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”

Pada keadaan ini adalah kadar yang tertinggi derajatnya yaitu melaksanakan ibadah karena rasa malu kepada Allah. Menjalankan perintah-Nya sebagai perwujudan dari syukur kepada Allah SWT dengan penuh kesadaran selalu merasa dirinya rendah dengan penuh kerinduan kepada Allah SWT. Pada tahapan ini, seorang hamba sudah berada dalam keadaan merdeka. Karena ia beribadah hanya mengharapkan ridho Allah semata . Tidak ada lagi yang dicari di dunia ini.

Level ibadah seperti ini pernah dilakukan seorang Waliyah Rabiah Adawiyah. Keimanan yang tampak dari ibadah yang dilakukannya hanya mengharap ridho Allah SWT. Dalam sebuah do’a yang ia panjatkan :

اللهم إن كنت أعبدك
خوفا من نارك
فاحرقني بنار جهنم
وإذا كنت أعبدك
طمعا في جنتك
فاصرفني منها..
أما إذا كنت أعبدك
من أجل محبتك
فلا تحرمني
من رؤية وجهك الكريم.

” Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka-Mu
bakarlah aku dengan api jahannam
Dan jika aku menyembah-Mu
karena menginginkan surga-Mu
palingkanlah aku darinya
Namun, jika aku menyembah-Mu
karena demi cinta-Mu
Jangan Kau halangi aku
untuk melihat wajah-Mu yang mulia”.

Adapun tingkatan niat yang kedua Syaikh Nawawi menuturkan lebih lanjut:

والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها

“Tingkat niat yang kedua adalah melakukan perbuatan agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya”.

Pada keadaan ini tingkatan ibadah seorang hamba diibaratkan sebagai pedagang. Karena ibadah yang dilakukan selalu mempertimbangkan untung dan rugi. Tahapan ini sudah bagus. Akan tetapi beribadah hanya karena mengharapkan surga atau takut siksa api neraka.

Lebih lanjut Syaikh Nawawi menuturkan:

والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات

“Tingkatan niat yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.”

Tingkat niat dalam keadaan ini adalah yang paling rendah. Karena Ibadah yang dilakukan seorang hamba kepada Allah hanya didasari rasa takut . Bukan karena rasa cinta mengharap ridho Allah. Jika diibaratkan keadaan ini seperti kepatuhan seorang budak sahaya kepada tuannya. Hanya sekedar melaksanakan tugas karena rasa takut dihukum tuannya.

Selanjutnya mengapa perkara niat itu sangat penting. Para Ulama menjelaskan fungsi niat dalam pelaksanaan amal Ibadah,

Pertama, fungsi niat adalah untuk membedakan antara adat ( kebiasaan ) dengan ibadah.
Contoh ada seorang datang ke masjid untuk berteduh dari panas. Maka perbuatan orang tersebut tidak mendapatkan nilai kebaikan. Karena berteduh adalah sebuah kebiasaan, walaupun yang dijadikan tempat berteduh adalah masjid. Tetapi jika berteduh di masjid disandingkan dengan niat beri’tikaf. Maka berteduhnya ia di masjid selain mendapatkan rasa sejuk, ia juga memperoleh nilai pahala dari ibadah i’tikafnya.

Kedua, fungsi niat untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya.
Contoh shalat yang bilangan rakaatnya dua ada banyak. Seperti shalat Sunnah qobliyah shubuh dan shalat shubuh. Sama bilangan rakaatnya, cara gerakan dan bacaan shalatnya. Semua ini dibedakan dengan niat. Yang satu niat shalat Sunnah dan yang lain shalat fardhu.

Lalu ada pertanyaan bagaimana niat yang dilafalkan dengan lisan atau tidak. Keduanya dibolehkan oleh para ulama. Orang yang melafalkan niat dengan lisan biasanya dikhawatirkan ada rasa keraguan atau lupa. Maka dari itu niat dilafalkan lalu takbiratul ihram disertai niat dalam hati.

Nabi Muhammad SAW pernah melafalkan niat dengan lisan ketika melaksanakan umroh dan haji.

عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّا

“Dari sahabat Anas ra berkata : “Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mengucapkan “Aku memenuhi panggilan-Mu untuk mengerjakan umrah dan haji.” (HR. Muslim)

Sayid Sabiq rahimahullah berkata, salah seorang sahabat ada yang berkata, aku mendengar Rasulullah berkata :

نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ اَوْ نَوَيْتُ الْحَجَّ

“Saya niat mengerjakan ibadah Umrah atau Saya niat mengerjakan ibadah Haji”.

Adapun niat yang dilafalkan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram juga boleh.

Niat itu berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat adalah di dalam hati. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ

“Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama”. (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262).

Betapa pentingnya niat menurut para Ulama terhadap dampak yang ditimbulkan menyangkut baik dan buruknya amal ibadah seorang hamba. Jika niat baik dalam hati namun tidak dapat terlaksana dikehidupan nyata, maka sudah tercatat sebagai pahala disisi Allah. Tetapi jika yang diniatkan dalam hati adalah suatu keburukan dan selama niat buruk itu tidak dilakukan, maka tidak akan dicatat sebagai suatu yang buruk dan dosa disisi Allah SWT.

Dalam kaidah fiqih, Syaikh as Sa’di rahimahullah

النِّيَةُ شَرْطٌ لِسَائِرِ العَمَلِ
بِهَا الصَّلاَحُ وَالفَسَادُ لِلْعَمَلِ

“Niat syarat seluruh amal
Karena niat akan baik atau jeleknya suatu amal”.

Berikutnya makna teks hadits dari,

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

” Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia diniatkan”.

Pelajaran dalam teks hadits di atas adalah jika kita benar sepenuh hati untuk berhijrah, maka diniatkan hijrah tersebut hanya untuk Allah saja dan bukan karena urusan dunia. Lalu hijrah yang dilakukan harus disempurnakan niat hijrahnya.
Contoh seorang perempuan dahulu dalam berbusana selalu memperlihatkan aurat dengan memakai pakaian yang ketat. Suatu waktu ia berniat hijrah untuk berhijab. Maka niat hijrahnya harus disempurnakan karena Allah dan bukan karena mengikuti trend dimasyarakat. Niat ini disertai keinginan diri berubah dengan tidak lagi memperlihatkan aurat dan memakai baju ketat.

Kesimpulan dari hadits di atas adalah marilah berlomba-lomba menghadirkan niat yang baik dalam hati. Karena manfaat niat baik itu sangat berharga disisi Allah SWT. Jika takaran dosa yang kita lakukan lebih banyak daripada pahala kebaikan. Maka niat baik itu bisa menyeimbangkan atau bahkan menambahkan pahala hanya dengan menghadirkan niat baik tersebut dalam hati dengan ikhlas mengharap ridho Allah.

Makna ridho Allah menurut Syaikh Abdul Malik Sya’ban adalah Allah akan mempermudah segala urusan, menghapus dosa dan menjadikan hamba-Nya lebih mencintai untuk mendekatkan diri kepada Allah daripada dunia.

Dalam pendapat lain mengenai perkara ridho Allah SWT menurut Syaikh Mutawalli asy Sya’rawi,

لَا تَعْبُدُوْا اللهَ لِيُعْطِيَ، بَلْ اُعْبُدُوْهُ لِيَرْضَى، فَإِنْ رَضِيَ أَدْهَشَكُمْ بِعَطَائِهِ

“Janganlah engkau menyembah Allah SWT supaya Dia memberi kepadamu, namun, sembahlah Allah supaya Dia ridho kepadamu, maka, jika Dia ridho kepadamu, Dia akan membuatmu bingung dengan pemberian-Nya”.

Maksudnya jika kita beribadah lakukanlah ibadah itu semata mengharap ridho Allah saja. Karena apabila beribadah dengan motivasi keduniaan jika berhasil kita akan lupa dan apabila tidak terlaksana akan timbul rasa kecewa yang berlebihan. Yakinkan ibadah kita hanya untuk Allah semata pasti Allah akan memberikan kejutan yang tak terduga bagi hamba-Nya.

Terakhir menyelaraskan antara niat di hati dengan ucapan dan perbuatan adalah menghadirkan Iradah yaitu kemauan atau keinginan yang kuat. Kata Buya Hamka ” Jika ada keinginan akan terbentang seribu jalan, namun jika tidak ada keinginan maka akan terbentang seribu alasan “.
Untuk menguatkan niat maka sadarkan diri bahwa tidak ada yang penting dapat diharapkan kecuali ridho Allah SWT.

 

Leave a comment

Open chat
1
Assalamualaikum
Ada yang dapat kami bantu?