Speaker Ust. Taqiyuddin, Lc Al Hafizh

Sesungguhnya orang-orang alim dalam urusan agama memiliki keutamaan-keutamaan yang luar biasa. Banyak nash menunjukkan hal tersebut, baik dari alquran maupun sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dengan satu ayat berikut, kiranya sudah cukup menunjukkan keutamaan seorang alim dalam urusan agama.

….. قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

….Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar: 9)

Ayat ini merupakan pertanyaan yang bersifat pengingkaran (pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban). Maksudnya, sebuah pengukuhan bahwa memang berbeda dan tidak sama antara orang berilmu dan tidak berilmu. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

“Keutamaan orang alim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah dari kalian”. (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

Dan ternyata, para ulama’ memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh mereka yang tidak berilmu. Diantaranya, mereka mempunyai strategi dalam beribadah, sehingga mereka mampu meraup pahala begitu banyak dengan amalan sama seperti yang dilakukan oleh mereka yang tidak berilmu.

Strategi Ulama’ Dalam Beribadah Kepada Allah

Pertama, Menghadirkan Multi Niat Dalam Satu Amalan Ibadah

Niat merupakan bagian paling penting dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Sehingga niat dapat mengubah amalan yang kecil menjadi besar, begitu juga sebaliknya. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mubarak Rahimahullah,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Al Ikhlas wan Niyyah)

Niat juga urgen karena niat juga berfungsi menjadikan amal yang sifatnya mubah menjadi amalan yang sifatnya ibadah. Hal ini dicontohkan langsung oleh para salafusshalih, sebagaimana percakapan antara Mu’adz bin Jabal dengan Abu Musa Al Asy’ary Radhiyallahu Anhuma berikut,

يَا عَبْدَ اللَّهِ كَيْفَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ أَتَفَوَّقُهُ تَفَوُّقًا قَالَ فَكَيْفَ تَقْرَأُ أَنْتَ يَا مُعَاذُ قَالَ أَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ فَأَقُومُ وَقَدْ قَضَيْتُ جُزْئِي مِنْ النَّوْمِ فَأَقْرَأُ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِي فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي

Mu’adz bertanya; “Wahai Abdullah bin Qais (nama lain Abu Musa), bagaimana engkau membaca alquran? Jawab Muadz; “Saya berusaha membaca sebanyak-banyaknya, lalu engkau sendiri bagaimana wahai muadz?” Kalau aku, jawab Mu’adz, saya tidur diawal malam kemudian bangun, kulaksanakan hak tidurku, dan aku baca apa yang Allah tetapkan bagiku, Aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana berharap pahala dari shalat malamku.

Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar rahimahumallah menjelaskan bahwa tidurnya seseorang dengan niat mengumpulkan tenaga supaya tegak di dalam beribadah kepada Allah, maka hal itu merupakan ibadah. Karenanya, tidak berlebihan, jika terkadang tidurnya orang alim lebih utama dari orang yang beribadah tanpa ilmu. Sebab, orang alim mengerti manejemen amal. Bahkan dalam tidur pun bernilaikan ibadah.

Sehingga tidak heran pula jika sebagian salaf berkata,

إني لأستحب أن يكون لي في كل شيء نية حتى في أكلي وشربي ونومي ودخولي الخلاء

“Sungguh aku sangat senang jika mampu menghadirkan niat dalam setiap sesuatu hingga dalam makanku, minumku, tidurku dan masuk kamar mandi.”

Demikian urgensi niat dalam tiap amal, apalagi ketika seseorang mampu menghadirkan multi niat dalam tiap amal.

Membaca alquran bisa dilakukan dengan multi niat. Seperti niat mengharapkan pahala membaca alquran, mengharap syafa’at dari alquran kelak di hari kiamat, mendapatkan cahaya hati dari Allah, agar iman bertambah, niat menghilangkan kegundahan dalam hati, munajat kepada Allah Ta’ala dan sebagainya.

Contoh lainnya, berangkat ke masjid. Barangkali sebagian kita hanya berniat untuk shalat berjama’ah. Namun bagi orang yang memiliki strategi beribadah, mereka berangkat ke masjid selain berniat untuk shalat berjama’ah, mereka juga berniat untuk I’tikaf dan memakmurkan masjid.

Memberikan bantuan kepada orang lain, berniat shadaqah, mendapatkan pahala, mendapatkan keutamaan memberikan makanan kepada orang lapar, mendapatkan keutamaan memberikan pakaian kepada orang lain, ditambah lagi dengan niatan agar tali ukhuwwah semakin terikat.

Maka dari itu Imam Ghazali mengatakan,

مَا مِنْ طَاعَةٍ إِلَّا وَتَحْتَمِلُ نِيَّاتٍ كَثِيرَةً وَإِنَّمَا تَحْضُرُ فِي قَلْبِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ بِقَدْرِ جَدِّهِ فِي طَلَبِ الْخَيْرِ وَتَشَمُّرِهِ لَهُ ، فَبِهَذَا تَزْكُو الْأَعْمَالُ وَتَتَضَاعَفُ الْحَسَنَاتُ

Tidak ada ketaatan melainkan tercakup padanya niat yang banyak. Niat yang banyak tersebut hadir dalam hati mukmin sesuai dengan kadar kesungguhannya dalam mencari kebaikan. Maka dari itu, amal itu bisa tumbuh dan kebaikan bisa berlipat ganda.

Kedua, Memanfaatkan Segala Kondisi Untuk Memperoleh Ibadah Paling Afdhal

Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ{133} الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133-134)

Sebagian ulama’ menafsirkan ayat ini sesuai zhahirnya, bahwa orang bertakwa adalah orang yang mampu mengeluarkan hartanya baik dalam kondisi lapang atau sempit, kaya atau miskin.

Sebagian ulama’ lainnya menafsirkannya dengan lebih luas, bahwa orang bertakwa adalah mereka yang tidak terhalangi satu kondisi apapun untuk mendapatkan pahala paling utama.

Ketika seseorang berada di tempat kerjanya, tidak menghalangi dirinya meraup pahala yang banyak. Ia berniat menjalankan perintah Allah dalam rangka menafkahi anak dan istrinya. Ketika seseorang berjalan-jalan, tidak menghalangi dirinya mendapatkan keutamaan yang besar, karena Allah juga memerintahkan untuk berjalan di muka bumi diiringi dengan tafakkur. Hingga seseorang terbaring lemas, di atas ranjang tidak mampu beraktivitas, tidak menghalanginya untuk meraup pahala yang besar. Ia akan mendapatkan pahala luar biasa melalui pintu sabar.

Dari ‘Atha’ bin Abi Rabah ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Inginkah engkau aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku pun menjawab, “Tentu saja.”

Ia berkata, ”Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam lalu berkata:

“Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh maka tanpa disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.” Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda:

“Jika engkau kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”

Maka ia berkata: ”Aku akan bersabar.” Kemudian ia berkata: ”Sesungguhnya aku (bila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka, maka mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Maka Beliau Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pun mendo’akannya. (HR. Al-Bukhari)

Orang bertakwa tidak terhalangi kondisi apapun untuk meraup pahala. Sampai seseorang yang sibuk dengan gadgetnya, satu postingan yang bernilaikan ilmu dien, kemudian disebarkan, dibaca oleh seribu orang dan diamalkan, maka betapa banyak pahala yang akan ia terima.

Sesungguhnya ibadah yang paling afdhal adalah ibadah yang tidak mutlak, tapi relatif. Karena itu, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan,

أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ

Ibadah yang paling utama di setiap waktu dan kondisi adalah mengutamakan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu dan kondisi tersebut dan melaksanakan kewajiban di waktu tersebut, tugas dan tuntutannya.

Maka ketika ada panggilan jihad, amalan paling utama adalah jihad. Ketika terdengar adzan, maka amalan paling utama adalah menjawab adzan. Ketika berada di masjid, maka amalan paling utama adalah shalat, membaca alquran dan berada di shaf awal.

Rahasia yang tersingkap kemudian tentang jawaban-jawaban nabi terhadap kalangan sahabat yang bertanya tentang amal yang paling afdhal atau dicintai oleh Allah Ta’ala. Pertanyaan yang sama dari orang-orang berbeda, jawabannya disesuaikan dengan kondisi penanya dan pendengarnya. Demikian penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

Ketiga, Tidak Menyia-Nyiakan Peluang Istimewa

Misalnya pada malam atau hari Jum’at, membaca surah Al Kahfi karena ingin meraih keutamaannya. Contoh nyatanya, Abu Thalhah ketika mendengar firman Allah surah Ali ‘Imran ayat 92,

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Beliau langsung mensedekahkan harta yang paling beliau cintai yaitu sebuah kebun kurma Bairuha’ untuk kepentingan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kebun ini letaknya menghadap masjid Nabawi di Madinah. Rasulullah suka memasukinya dan minum dari airnya yang nyaman.

Keempat, Memperbanyak Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir Walaupun Sudah Meninggal

Hadits tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman¬faat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariyah.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyebutkan ada 7 amalan yang pahalanya tetap mengalir ke kubur seseorang tatkala ia telah meninggal. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnad-nya dengan sanad hasan, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

سَبْعٌ يَجْرِيْ لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا ، أَوْ أَجْرَى نَهْرًا ، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا ، أَوَ غَرَسَ نَخْلًا ، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا ، أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا ، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Ada tujuh perkara yang pahalanya tetap mengalir untuk seorang hamba setelah ia meninggal, padahal ia berada di dalam kuburnya: (1) orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan, (2) orang yang mengalirkan sungai (yang terputus pen.) (3) orang yang membuat sumur, (4) orang yang menanam kurma (buah), (5) orang yang membangun masjid, (6) orang yang memberi mush-haf Alquran, dan (7) orang yang meninggalkan seorang anak yang senantiasa memohonkan ampun untuknya setelah ia wafat.”

Dengan beberapa strategi dalam beramal di atas, semoga menjadikan kita semakin cerdas dalam mendulang pahala dengan menerapkan strategi-strategi tersebut.

Wallahu Ta’ala A’lam

Ust. Taqiyuddin, Lc Al Hafizh

Leave a comment

Open chat
1
Assalamualaikum
Ada yang dapat kami bantu?