Speaker Ust. Bahtiar Natsir, Lc., MM

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعزّ جنده، وهزم الأحزاب وحده. لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين، ولو كره الكافرون، ولو كره المشركون، ولو كره المنافقون.

Jama’ah yang berbahagia, muslimin dan muslimat di hari raya. Semoga kita semua tergolong mereka yang diterima ibadahnya selama bulan Ramadhan. Dan mudah-mudahan keluar dari Ramadhan seperti bayi yang terlahir kembali tanpa dosa. Semoga jama’ah masjid Darussalam warga kota wisata, khususnya para muslimin dan muslimat untuk senantiasa menjaga kualitas takwanya yang sudah didapatkan dalam bulan Ramadhan dan terus ditingkatkannya.

Kesempatan kali ini khatib akan membidik masalah sosial besar yang sedang melanda negri ini terkait tingginya perceraian. Dan penyebab perceraian tersebut bukan karena thalaq (lelaki yang menceraikan) tetapi karena perempuan yang ingin dilepas dari suaminya. Fenomena anak-anak yang melakukan tindakan-tindakan meresahkan masyarakat, mulai dari free sex, geng motor, tawuran, narkoba, minuman keras, pornoaksi dan pornografi. Ini sesuatu yang memang sudah dianggap biasa oleh anak-anak.

Khatib mengingatkan kepada para Ayah “Anakmu sekarang menghadapi sebuah lingkungan yang sangat berbahaya, tetapi kamu tidak pernah mengalaminya dahulu”. Orang media menyebut bahwa usia 35 tahun ke atas dianggap sebagai usia analog. Usia analog ini dari sisi media, jika masih banyak yang menunggu koran di pagi hari, nonton TV atau berita dianggap sudah tidak aktif lagi. 35 tahun ke bawah, orang menyebutnya dengan usia digital, dunia yang dihadapi mereka belum pernah dialami oleh para Ayah.

Khatib pernah bertanya kepada anak-anak SMU, “Siapa yang Papa Mama nya boleh membuka password HPnya kapan saja? Boleh membuka emailnya kapan saja? Hanya sedikit anak-anak yang memperkenankan Papa Mamanya boleh membuka password. Padahal, kalau Bapak Ibu sudah tidak boleh masuk, maka pada saat itu, orang tua tidak punya kekuatan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, sementara pornografi dan sejenisnya dekat dengan anak-anak. Anak-anak kita bergaul dengan orang yang paling kotor ucapannya dan orang yang paling jahat hatinya.

Di rumah belum terdidik bagaimana punya mental Muraqabatullah (pengawasan Allah), belum terbiasa dengan pola komunikasi yang santun, tiba-tiba masuk ke dunia sosial media dan berinteraksi dengan berbagai macam bahasa.

Jadi, jangankan orangtua, partai politikpun sekarang tunduk dihadapan anak muda. Seperti akan hancurnya perusahaan besar seperti Nokia, Sony dan sejenisnya dihadapan Android. Atau mungkin perusahaan Taksi yang akan kalah saing dengan perusahaan aplikasi.

Ada perubahan-perubahan sosial luar biasa. Kalau orang tua tidak mengamati dan mencermati ini berapa banyak suami yang selingkuh di alam maya, dan berapa banyak istri yang tidak memperkenankan suaminya untuk membuka HP, emailnya sehingga penuh dengan rahasia. Tidur seranjang berdua tapi pikirannya kemana-mana dengan gadgetnya masing-masing.

Khatib ingin menekankan tema bagaimana caranya agar bisa masuk surga sekeluarga. Dan semoga yang hadir disini semuanya, menjadi orang-orang yang dimampukan bisa masuk surga sekeluarga.

Suami harus jadi pemimpin masuk surga sekeluarga dan ibu menjadi pendamping masuk surga sekeluarga. Kakek dan nenek menjadi teladan masuk surga sekeluarga. Dan anak-anak menjadi pejuang dan jembatan masuk surga sekeluarga.

Ada kasus, satu keluarga sudah lama berkeluarga tapi seperti air dan minyak. Konon, istrinya adalah pegawai terbaik di kantornya. Sedangkan si Suami, sudah menjadi suami yang egois karena memikirkan diri sendiri dan kepentingannya.

Tidak seperti Nabi Ibrahim Alaihissalam ketika sukses menjadi seorang ayah dan pemimpin manusia, maka hal pertama kali yang diminta olehnya adalah agar anak keturunannya juga menjadi pemimpin bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Al Baqarah: 124)

Seorang ayah satu hari kecewa, dia punya putri tamatan sekolah luar negri, wajahnya cantik, punya penghasilan sendiri, akhlaknya baik, tapi kenapa dia memilih suami yang agamanya tidak jelas, mukanya tidak jelas, keluarganya, akhlaknya pun tidak jelas. Khatib bertanya, “memang sejak kapan Bapak hadir dalam kehidupan anak Bapak? Itulah masalahnya, saya sibuk dengan urusan Negara.” Selamat, itu adalah awal siksaan anak terhadap Bapak, karena selama ini bapak sibuk dengan urusan sendiri. Anak perempuan yang sudah tidak kagum terhadap ayahnya.

Ayah sukses itu biasanya, kalau punya anak laki-laki ia akan berkata, “My Dad is my Hero”. Bagi anak perempuan ia akan berkata, “My Dad is my first Love”. Tapi kalau anak perempuan sudah kosong jiwanya, karena ayah tidak pernah hadir selama hidupnya dan ayah malas memuji anak perempuannya, maka biasanya ia akan mencari jodoh yang bertentangan dengan ayahnya. Dan itu adalah awal siksaan anak terhadap ayahnya.

Para ayah dan bunda, coba perhatikan kalimat doa seorang anak kepada orangtuanya, “Sayangi keduanya sebagaimana mereka berdua menyanyangiku sejak kecil”.

Masalah terbesar anak-anak kita dari SMU hingga SD adalah Bullying. Bulliying tertinggi diantara anak-anak sekolah adalah mencela ayah. Sebagian besar mereka tidak marah jika ayahnya dicela dan dihina, tetapi jika ibunya dicela, mereka akan marah. Hal ini sebetulnya menunjukkan bahwa banyak anak-anak yang tidak takut kepada ayahnya.  

Perhatikanlah kisah Ya’qub dalam ayat berikut,

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al Baqarah: 133)

Ayat di atas menunjukkan bagaimana sebenarnya tanggung jawab ayah, sehingga anak menjadi bangga kepada keturunan ayahnya. Banyak tidak anak-anak yang tidak nge-fans kepada ayahnya dan tidak bangga terhadap keturunannya? Bahkan banyak ayah yang stress mencarikan jodoh anaknya, karena tidak hadir dan tidak bisa membimbing anaknya dengan baik.

Ayat di atas setidaknya mengajarkan dua hal kepada kita:

Pertama, bagaimana menjadi suami dan ayah yang benar

Bukan cuma mencari uang sebanyak-banyaknya, menyekolahkan anak setinggi-tingginya. Akhirnya anak menikah cuma bermodalkan cinta dan sudah kerja. Padahal berumah tangga membutuhkan pengetahuan dan pemahaman tentang psikologi perempuan atau laki-laki, hukum terkait pernikahan, keuangan keluarga, kesehatan reproduksi, sampai kepada masalah trouble maker.

Kedua, pendidikan yang harus diajarkan adalah Tauhid

Masa paling kritis bagi ayah adalah menjelang wafatnya dan ternyata anaknya tidak dididik dengan dua hal. Yaitu; siapakah yang akan disembah selepas kematian ayah dan tidak diajarkan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jama’ah Idul Fitri rahimakumullah

Surga istri adalah suami. Maka jangan halangi suami untuk dekat dengan ibunya. Ada beberapa macam istri sebagaimana ada beberapa macam dalam alquran. Di dalam alquran, ada anak yang disebut sebagai hiasan. Para orang tua yang membesarkan anak seperti aksesoris, bayarannya mahal tapi susah disuruh shalat jama’ah lima waktu. Kalau ini dibiarkan, rekreasinya mahal, pakaiannya ber-merk, sekolahnya tinggi. Tapi tidak dididik dengan tauhid, tidak dilindungi dari syirik, tidak didisplinkan kepada islam, maka tunggu-lah, anak akan menjadi fitnah bagi orang tuanya. Bahkan bisa menjadi musuh orangtua. Mempunyai anak perempuan yang sudah baligh namun tidak disuruh memakai hijab, menutup aurat, maka gagal juga ayah ibunya.

Didiklah anakmu sebagaimana yang kamu minta selalu kepada Allah,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Hari ini, memang para istri banyak yang menghadapi kezaliman dari suaminya dengan berbagai macam bentuknya, begitu juga sebaliknya. Tapi bersabarlah. Kalau rumah tangga tidak mau cekcok lagi, khatib mempunyai tips yaitu beriman dan beramal shalih.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (الطور: 21)

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (At Thur: 21)

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata,

إن الله تبارك وتعالى ليرفع ذرية المؤمن في درجته وإن كانوا دونه في العمل …….

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi mengangkat derajat keturunan orang-orang yang beriman pada tingakatan yang didapatkannya di dalam surga sekalipun di antara mereka ada yang amalnya kurang…”, agar mereka senang dengan kebersamaan mereka dengan para keturunan mereka, kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:

Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan,

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah karunia Allah Ta’ala kepada anak-anak karena keberkahan amal bapak-bapak mereka. Adapun karunia Allah Ta’ala bagi anak-anak untuk bapak-bapak mereka karena do’a anak-anak mereka adalah, seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari hadits Abi Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إن الله ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة فيقول : يا رب أنى لي هذه ؟ فيقول باستغفار ولدك لك (رواه أحمد )

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di dalam surga, dan hamba itu bertanya: Wahai Tuhanku bagaimana aku bisa mendaptakan derajat ini?. Maka Allah berfirman: Karena istighfar anakmu bagimu”. (Musnad Imam Ahmad)

Orangtua beriman akan diikuti dengan anak beriman, karena mereka mengajarkan satu konsep ketuhanan yang sama yaitu Allah tidak dilahirkan maupun melahirkan (Tauhid). Jika orangtua beriman ini masuk surga, anak-anakpun masuk surga. Namun jika orangtuanya memiliki kadar amal yang lebih tinggi daripada anaknya, maka Allah Ta’ala akan mensejajarkan dengan kadar amal orangtuanya. Jadi, orang tua harus mengajak anak pada keimanan agar anak bisa mengikuti orang tuanya hingga ke syurga.

Lalu bagaimana jika orangtuanya tidak beriman dan tidak masuk surga, apakah kadar amal anak yang beriman dan masuk surga akan berkurang? Tidak, karena anak keturunan tidak mendapat manfaat apapun dengan ketidak shalehan bapaknya, (At Thur: 21). Allah Ta’ala juga tidak akan mengurangi sedikitpun kadar amal anak tersebut karena setiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya

Minimal, anak harus bisa menghafal dan mengamalkan dua doa berikut;

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.

“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Al Ahqaf: 15)

Keluarga yang sering cekcok, biasanya terjadi karena pola komunikasi. Komunikasinya saling menghujat, saling mengungkit kesalahan masa lalu, saling menghina, merendahkan dan sebagainya.

Padahal para Malaikat Allah Ta’ala berdoa kepada keluarga yang bercita-cita masuk surga sekeluarga,

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shaleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ghaafir: 8)

Namun, yang membuat mereka berkumpul di surga bukan semata karena nasabnya. Tapi karena adanya iman dan amal shalih yang menjadikan mereka masuk surga. Karena di sana disebutkan, “dan orang-orang yang shalih . .” yakni yang benar iman dan amal shalehnya. (Lihat Tafsir al-Sa’di)

Caranya, adalah dengan saling mengingatkan tentang dahsyatnya siksa neraka

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”. (At-Thur: 26)

Mudah-mudahan semoga keluarga disini dibahagiakan dan dimasukkan sekeluarga semuanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam Syurga. Aaamiin.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

إن الله وملائكته يصلون على النبي، ياأيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما، وعلى الصحابة أجمعين أبي بكر وعمر وعثمان وعلي، والتابعين والتابع التابعين بإحسان إلى يوم الدين، وارحمنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.

اللهم اغفر للمسملبن والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات، يا قاضي الحاجات. ربنا اغفرلنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا. ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما. ربنا اجعلنا مقيم الصلاة ومن ذريتينا ربنا وتقبل دعاء.

رَبِّنا أَوْزِعْنِا أَنْ نشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَينا وَعَلَى وَالِدَينا وَأَنْ نعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وأصلح لنا في ذريتنا إنا تبنا إليك وإنا من المسلمين.

ربنا آتنا من لدنك رحمة وهيّء لنا من أمرنا رشدا. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار.

Leave a comment

Open chat
1
Assalamualaikum
Ada yang dapat kami bantu?