Speaker Hadith lessons

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan pada awal-awal surah Al ‘Ankabut;

الم{1} أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ{2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ{3}

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al ‘Ankabut: 1-3)

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, Ad Darimi, Ahmad)

Allah Ta’ala memberikan panduan berupa alquran, kemudian diterangkan oleh Rasulullah dalam bentuk ajaran yang beliau praktekkan untuk mengarahkan kita agar menjadi hamba Allah sebenarnya karena kita telah membuat perjanjian dengan-Nya.

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah” (Al An’am: 162)

Inilah yang akan kita buktikan dalam hidup ini sampai menghadap Allah Ta’ala. Apakah kita termasuk orang jujur dengan pernyataan di atas ataukah termasuk pendusta. Kejujuran adalah cirinya orang mukmin, sementara kebohongan adalah cirinya orang munafiq. Karenanya, Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa orang mukmin itu tidak akan berdusta.

Kejujuran adalah menyampaikan berita apa adanya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar atau jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya.

Kejujuran bagian daripada keimanan lawan dari kebohongan. Allah Ta’ala-pun memerintahkan kepada kita untuk bersama orang-orang shiddiq.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At Taubah: 119)

Ayat ini sebenarnya terkait dengan tiga orang sahabat nabi yang karena mereka merasa yakin dengan kemampuan kudanya, persiapan fisiknya, perlengkapan perangnya, sehingga mereka “menggampangkan” masalah. Mereka adalah Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Rabi’.

Dalam hati mereka berkata “biarlah mereka berangkat dahulu, kita akan menyusul karena kita masih ada kesibukan”. Hal ini terjadi pada perang Tabuk. Tetapi apa yang terjadi? Karena orang yang suka menunda kebaikan, maka ujungnya akan kelewatan. Akhirnya pada saat mereka akan mengejar, perang telah selesai. Mereka-pun akhirnya menyesal. Namun Rasulullah tetap menghukum mereka dengan tidak melarang kaum muslimin untuk berbicara kepada mereka bertiga hingga berlangsung 50 malam.

Setelah berlalu 40 hari dari 50 hari masa pengucilan, Rasulullah memerintahkan mereka bertiga untuk menjauhi istri mereka. Kecuali istri Hilal bin Umayyah yang meminta izin untuk merawat suaminya karena sudah tua dan diizinkan oleh Rasulullah.

Akhirnya, setelah genap 50 malam, terhitung sejak kaum muslimin dilarang berbicara dengan mereka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumumkan kepada kaum muslimin seusai shalat shubuh, bahwa Allah telah menerima taubat mereka bertiga.

Pada masa hukuman tersebut, suatu hari ada seorang dari negeri Syam yang berjualan makanan di kota Madinah bertanya, “Siapakah yang sudi menunjukkan di mana Ka’ab bin Malik?’ Maka orang-orang pun menunjukkannya. Lalu dia datang kepada Ka’ab sambil menyerahkan sepucuk surat untuknya dari raja Ghassan. Karena Ka’ab bin Malik bisa menulis dan membaca, maka ia bisa memahami surat itu, ternyata isinya sebagai berikut,

“Kami mendengar bahwa temanmu (yakni Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) mengucilkanmu dari pergaulan umum, sedangkan Allah tidak menyia-nyiakanmu, karena itu bergabunglah dengan kami, kami akan menolongmu.”

Selesai membaca surat itu Ka’ab pun berkata, “Surat ini juga merupakan bencana bagiku.” Lalu beliau memasukkannya ke pembakaran dan membakarnya hingga musnah.”

Dari sekilas kisah di atas, dapat dipetik pelajaran bahwa ujian hidup akan banyak seperti itu. Kita akan dihadapkan dengan berbagai benturan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat dan kepentingan-kepentingan lainnya. Jika iman seseorang kokoh, ia tidak akan terbawa dengan pengaruh yang ada.

Hidup ini-pun dipenuhi dengan dua bentuk, mempengaruhi atau dipengaruhi. Tetapi terkadang iman itu naik dan turun. Naiknya karena ketaatan dan turunnya karena kemaksiatan.

Oleh itu, mari kita coba membiasakan diri membaca alquran 1 juz sehari. Tetapi, bila satu hari lebih dari 1 juz, lebih baik. Ketika kita konsisten 30 hari khatam, tapi ada saat-saat tertentu karena keimanan menurun, semangat juga menurun, kesempatan semakin menyempit sehingga tidak lagi mampu menyelesaikan satu hari 1 juz. Mungkin satu hari 5 lembar hingga satu hari sama sekali tidak membaca alquran. Hal ini berarti ada dosa yang kita lakukan.

Menjalani hidup ini harus penuh dengan kejujuran. Khususnya jujur terhadap Allah, diri sendiri dan sesama manusia. Jujur tidak hanya di lesan, hati dan perbuatan harus selaras. Yang paling tahu adalah diri kita sendiri.

Dalam alquran disebutkan kurang lebih 153 ayat yang mengingatkan arti kejujuran supaya kita tidak termasuk orang-orang munafiq.

إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (المنافقون: 1)

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (Al Munafiqun: 1)

Karenanya, jangan juga mengajarkan kebohongan terhadap keluarga. Sebab, kejujuran akan mendatangkan ketenangan, sebaliknya kebohongan mendatangkan keraguan. Sedangkan sikap keraguan seharusnya ditinggalkan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ.

“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً  رواه مسلم .

Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu Anhu berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta”. (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa kejujuran akan membuka pintu kebaikan, dan pintu kebaikan akan membuka pintu syurga. Hadits di atas juga menunjukan akan besarnya keburukan dusta dimana ujung-ujungnya membawa orang yang dusta ke neraka.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Kejujuran adalah jalan yang lurus dimana orang yang tidak menempuh jalan tersebut, dia akan celaka dan binasa. Dengan kejujuran inilah, akan terbedakan siapakah yang munafik dan siapakah orang yang beriman, dan siapakah yang termasuk penduduk surga dan siapakah yang termasuk penduduk neraka”. (Madaarijus Salikin)

Bercermin Dari Kejujuran Mubarak

Kita tentu mengenal Abdullah bin Mubarak. Seorang ulama besar tabi’ut tabi’in yang lahir pada 118 H. Beliau menjadi rujukan fatwa di zamannya, bahkan setelah beliau tiada. Beliau dikagumi sebagai pengusaha sukses, ibadah dan kezuhudannya sekaligus semangat jihadnya.

Kita mengenal Abdullah bin Mubarak, namun tahukah kita siapa ayahnya? Membaca salah satu episode kehidupan Mubarak, kagumlah kita betapa jujurnya ia dan karenanya pantaslah jika putranya menjadi ulama besar.

Belasan tahun sesudah abad pertama Hijriyah berlalu, Mubarak masih menjadi budak. Ia ditugasi oleh tuannya untuk menjaga kebun delima. Bertahun-tahun Mubarak menjadi penjaga kebun delima itu. Suatu hari, majikannya datang ke kebun itu dan minta diambilkan delima yang manis.

Mubarak mengambilkan salah satu buah delima, tetapi majikannya tidak berkenan saat mencicipinya. “Ini masam, Mubarak,” katanya dengan nada kecewa, “carikan yang manis”

Mubarak mengambilkan buah kedua. “Ini juga masam, carikan yang manis!” kata-kata itu kembali meluncur dari sang majikan setelah ia mencicipinya.

Mubarak mengambilkan buah delima ketiga. Lagi-lagi, wajah majikan menandakan raut muka kecewa setelah memakannya. “Ini masam, Mubarak. Apakah kau tidak bisa membedakan buah delima yang manis dan buah delima yang masam?”

“Saya tidak dapat membedakannya, tuan. Sebab saya tak pernah mencicipinya?”

Mendengar jawaban itu, alangkah herannya sang majikan. “Kau tidak pernah mencicipinya? Padahal kau sudah bertahun-tahun aku tugaskan menjaga kebun ini”

“Iya tuan. Engkau menugaskan aku untuk menjaganya, bukan untuk mencicipinya. Karenanya aku tidak berani mencicipinya walaupun satu buah,” jawab Mubarak.

Sang majikan tidak jadi marah. Persoalan tidak mendapatkan delima yang manis terlupakan begitu saja. Yang ada kini hanya kekaguman. Ia kagum dengan kejujuran penjaga kebunnya. Belum pernah ia mendapati seseorang yang lebih jujur dan memegang amanah melebihi budak di hadapannya ini.

“Wahai Mubarak, aku memiliki putri yang belum menikah,” kata sang majikan mengubah topik pembicaraan, “menurutmu, siapakah yang pantas menikah dengan putriku ini?”

“Dulu, orang-orang jahiliyah menikahkan putrinya atas dasar keturunan,” jawab Mubarak, “Orang-orang Yahudi menikahkan putrinya atas dasar harta dan kekayaan. Orang-orang Nasrani menikahkan putrinya atas dasar ketampanan. Maka sudah selayaknya orang-orang Muslim menikahkan putrinya atas dasar agama.”

Jawaban ini semakin membuat sang majikan kagum dengan Mubarak. Dan selang beberapa waktu, Mubarak dipilih olehnya untuk menjadi menantu. Ia dinikahkan dengan putrinya. Dan dari pernikahan mereka, lahirlah Abdullah bin Mubarak pada tahun 118 hijriyah.

Demikianlah, kejujuran selalu berbuah manis. Apa yang dialami Mubarak, kejujuran membuatnya bebas, dari budak menjadi orang yang merdeka. Hal ini juga membuktikan bahwa kejujuran mendatangkan berkah. Bahkan, kejujuran mempertemukannya dengan cinta dan jodohnya.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari adzab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).”

Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

“Barangsiapa memohon dengan jujur kepada Allah agar mati syahid, maka Allah akan sampaikan ia kepada kedudukan para syuhada’ walaupun ia mati di atas ranjangnya.” (HR. Muslim)

Menjadi orang yang mati dalam keadaan syahid adalah cita-cita setiap mukmin yang sempurna keimanannya. Keutamaan orang yang mati dalam keadaan syahid sangat banyak dan sangat besar. Dalil-dalil yang membahas tentang keutamaan mati dalam keadaan syahid disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun syahid adalah anugerah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan kedudukan para syuhada’ untuk orang-orang yang menginginkan mati syahid, jika orang tersebut memiliki niat yang ikhlas dan jujur dari hatinya.

Wallahu Ta’ala A’lam

 

Leave a comment

Open chat
1
Assalamualaikum
Ada yang dapat kami bantu?