Muhasabah Diri

Muhasabah Diri

Rasulullah SAW bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

” Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga “.

Di dalam hadits ini terdapat janji Allah SWT bahwa bagi orang-orang yang berjalan meringankan langkah kakinya berkumpul di masjid yang mulia ini dalam rangka menuntut ilmu agama, semoga menjadi asbab Allah akan memudahkan jalan bagi kita menuju Surga.

Allah SWT berfirman

وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ

” Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. ( Q.S. Al Imran : 140 )

Ternyata umur kita semakin hari semakin berkurang. Jadi jangan berharap dalam benak kita umur itu akan berulang atau kembali lagi.
Kebiasaan dari kita selalu memperingati hari ulang tahun. Padahal pada hakikatnya tahun- tahun yang kita lalui tidak akan terulang lagi bahkan hilang. Semakin berganti tahun maka sebenarnya semakin berkurang dan hilang kesempatan hidup kita di dunia.
Sekarang yang terpenting adalah menjawab pertanyaan, apakah dengan berkurangnya umur dan perjalanan hidup yang telah kita lalui semakin menambah ketaatan dan kedekatan ( taqorrub ) kepada Allah SWT atau sebaliknya justru semakin banyak dosa-dosa yang kita perbuat.

Abu Nawas dalam syairnya berkata,

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَذنْبِي زَائِدٌ كَيفَ احْتِمَالِي

” Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya “.

Mengenai kaitan di atas, sikap yang baik sebagai seorang hamba adalah Muhasabah ( instropeksi diri ). Muhasabah sejatinya dilakukan setiap hari terutama menjelang tidur. Kita meriview apa saja aktivitas sehari penuh yang telah kita lakukan dari mulai bangun dari tidur dan menjelang tidur kembali. Sudahkah kita mengingat Allah. Minimal ketika kita bangun dari tidur mengucapkan,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“ Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan “.

Dari do’a ini sebenarnya merupakan muhasabah diri. Sudahkah kita mengingat Allah dengan bertasbih menyebut nama-Nya dan setelah itu kita harus sadar bahwa di waktu yang akan datang kita akan kembali kepada-Nya juga. Lalu ketika kita dibangkitkan kembali bekal apa yang kita persiapkan untuk menghadapi-Nya.

Contoh lain yang menjadi muhasabah bagi diri kita adalah wudhu.
Wudhu itu tidak semata membersihkan raga tetapi dalam tiap gerakan wudhu juga terdapat makna pelajaran tentang penyucian jiwa. Jika kita dapat memahami dengan benar berarti kesempurnaan wudhu yang kita lakukan telah hidup menjadi sarana koreksi diri.

Coba kita perhatikan rangkaian gerakan wudhu berikut ini,

1. Membasuh telapak tangan.
اللَّهُمَّ احْفَظْ يَدِيْ مِنْ مَعَاصِيْكَ كُلِّهَا

“Ya Allah, jagalah kedua tanganku dari semua perbuatan maksiat “.

Maknanya kita mohon kepada Allah SWT agar tangan kita senantiasa melakukan kebaikan terhindar dari perbuatan buruk.

2. Saat berkumur

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ اللَّهُمَّ اسْقِنِي مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لَا أَظْمَأُ بَعْدَ

“Ya Allah, tolonglah aku (untuk selalu) mengingat dan bersyukur pada-Mu. Ya Allah, beri aku minuman dari telaga Kautsar Nabi Muhammad, yang begitu menyegarkan hingga aku tidak merasa haus selamanya “.

Harapan kita agar lisan ini selalu ringan bersyukur dan berdzikir dengan memuji Allah SWT. Jika digalih lebih dalam makna dari berkumur ini adalah agar lisan kita menjadi muslim yang selamat karena terjaga dari perkataan yang menyakitkan orang lain, bohong dan fitnah.

ﺳَﻠَﺎﻣَﺔُ ﺍﻹِﻧْﺴَﺎﻥِ ﻓِﻲ ﺣِﻔْﻆِ ﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥِ

“ Keselamatan orang terletak pada penjagaan lisannya “.

3. Ketika membersihkan lubang hidung,

اللَّهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَةَ الْجَنَّةِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ نِعَمِكَ وَجَنَّاتِك

” Ya Allah, (izinkan) aku mencium wewangian surga. Ya Allah, jangan halangi aku mencium wanginya nikmat-nikmatmu dan wanginya surga “.

اَلَّلهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ رَوَائِحِ النَّارِ وَسُوْءِ الدَّارِ

” Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari busuknya aroma neraka, dan dari buruknya tempat kembali “.

Selain itu dalam pepatah bangsa arab hidung adalah lambang sifat riya dan sombong. Tanda orang yang senang akan pujian , hidungnya akan mekar dan memerah lalu ia berbangga hati berlebihan akan kebaikan yang dilakukan.

Namun ketika kita wafat, dalam liang lahat hidung ini akan disandarkan mencium tanah kuburan.
Maknanya sebagai manusia kita tidak boleh sombong dengan segala yang kita miliki di dunia ini. Pada akhirnya kita akan tunduk, hidung kita bersimpuh menyentuh tanah. Karena kita ini makhluk kecil dan lemah. Semua dimiliki adalah titipan Allah SWT.

4. Saat membasuh wajah,

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

” Ya Allah, putihkanlah wajahku di hari ketika wajah-wajah memutih dan menghitam “.

Doa ini dipanjatkan agar di akhirat kelak Allah menggolongkan kita sebagai orang baik, dimana saat berkumpul di padang mahsyar, orang baik dicirikan dengan berwajah putih, dan sebaliknya orang jelek dicirikan dengan berwajah hitam kusam.

5. Saat membasuh tangan kanan,

اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِينِيْ وَحَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيرًا

” Ya Allah, berikanlah kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kananku, dan hisablah aku dengan hisab yang ringan.”

Sedangkan saat membasuh tangan kiri,

اللَّهُمَّ لَا تُعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِشِمَالِيْ وَلَا مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ
” Ya Allah, jangan Kau berikan kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kiriku, dan jangan pula diberikan dari balik punggungku ”

Tentang doa diatas, kelak di akhirat nanti, Allah akan memberikan pada semua manusia, catatan amal mereka masing-masing. Apabila manusia tersebut amalnya baik, maka ia akan menerima kitab amalnya dengan tangan kanan dan berhadapan muka, namun apabila amalnya jelek, maka ia akan menerima kitab amalnya dengan tangan kiri dan diberikan dari balik punggung.

6. Saat mengusap kepala,

اللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ وَأَظِلَّنِيْ تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا ظِلَّ إلَّا ظِلُّك

” Ya Allah, halangi rambut dan kulitku dari sentuhan api neraka, dan naungi aku dengan naungan singgasana-Mu, pada hari ketika tak ada naungan selain naungan dari-Mu “.

Membersihkan kepala berarti menyucikan pikiran dari prasangka buruk.

7. Saat mengusap telinga,

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“ Ya Allah, jadikanlah aku orang-orang yang mampu mendengar ucapan dan mampu mengikuti apa yang baik dari ucapan tersebut “.

Ibrah menyucikan telinga, agar kita terlindung dari mendengar hal-hal buruk dan senantiasa mendengar kalimat baik, seperti kalimat Tauhid. Sehingga ketika saat menghadapi dahsyatnya sakaratul maut, hal terakhir yang kita dengar disaat semua panca indera kita tidak berfungsi. Telinga ini dapat merespon dengan baik dari stimulus orang yang membisikkan kalimat tauhid tersebut ke telinga kita.

8. Saat membasuh kaki kanan

اللهم اجْعَلْهُ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ الْأَقْدَامُ

” Ya Allah, jadikanlah (segenap langkahku) sebagai usaha yang disyukuri, sebagai penyebab terampuninya dosa dan sebagai amal yang diterima. Ya Allah, mantapkanlah telapak kakiku saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki yang tergelincir “.

Dan saat membasuh kaki kiri,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ تَنْزِلَ قَدَمِيْ عَنِ الصِّرَاطِ يَوْمَ تَنْزِلُ فِيْهِ أَقْدَامُ الْمُنَافِقِيْنَ

” Ya Allah, aku berlindung pada-Mu, dari tergelincir saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki orang munafik yang tergelincir “.

Terkait doa di atas, menjadikan kita mohon perlindungan agar kaki ini tidak digunakan melangkah ketempat-tempat yang diharamkan. Tetapi digunakan untuk melangkah ke sesuatu dan tempat yang baik, seperti hadir di majlis ilmu.ini merupakan salahsatu yang dapat menyelamatkan kita melewati sirathal mustaqim.

Setelah raga dan jiwa ini bersih dan suci barulah kita menghadap Allah SWT dengan hati yang tenang.

Muhasabah seharusnya menambah motivasi diri untuk lebih bersemangat dalam beramal dan beribadah.
Diantaranya adalah amal jariyah. Amalan yang apabila kita telah meninggalkan dunia ini efeknya masih bisa dirasakan. Karena kebaikan pahala tersebut masih mengalir terus.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

” Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya “.

Muslim yang baik adalah yang memanfaatkan waktunya diisi dengan kebaikan. Setiap harinya harus ada perubahan dan perkembangan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

من كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل أمسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون

“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat “.

Sebagai manusia tentu saja grafik keimanan kita selalu berubah-berubah. Berbeda dengan keimanan seorang Nabi dan Rasul, grafik keimananya semakin diuji semakin naik.
Seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika singgah di kota Thaif.
Sambutan penduduk Thaif kepada Rasulullah SAW ketika berdakwah dilemari batu hingga terluka. Ketika Malaikat menawarkan jasanya untuk membinasakan penduduk Thaif tersebut. Jawaban Rasulullah SAW dengan tangan kiri melindungi tubuh penuh luka dan darah yang mengalir. Tangan kanannya diangkat sambil berdo’a,

اللهم اهدي قومي فانهم لا يعلمون

” Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui (bahwa yang aku bawa ini benar) “.

Lalu bagaimana sebaliknya jika pristiwa itu terjadi pada diri kita. Mungkin kita akan bersumpah serapah dan membalas kejahatan mereka.

Jika diibaratkan grafik iman manusia seperti mata gergaji yang kadang naik bertambah kadang juga turun berkurang. Yang menyebabkan bertambah dan berkurangnya iman adalah ketaatan dan kemaksiatan yang kita lakukan.

الايمان يزيد و ينقص يزيد بالطاعة و ينقص بالمعصية

” Iman itu bisa bertambah dan berkurang, bisa bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat “.

Inti dari muhasabah bagi seorang muslim adalah menjaga agar ritme keimanannya agar tetap terjaga bahkan meningkat sampai akhir hayat. Disaat detik-detik ruh akan dicabut dari tubuh, lisan dan hati ini lancar mengucapkan kalimat tauhid. Karena ada jaminan Allah akan di masukkan ke dalam surga.

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

” Barangsiapa yang akhir perkataannya ‘ LAA ILAHA ILLALLAH ‘ maka dia akan masuk surga “.

Tersenyum ketika wafat di saat orang lain menangis,

ولدتك أمك يابن أدم باكيا والناس حولك يضحكون سرورا
فاعمل ليومك أن تكون إذا بكوا في يوم موتك ضاحكا مسرورا

” Kamu menangis saat dilahirkan,
dan orang-orang di sekitarmu
tersenyum bahagia.
Berupayalah dalam hidupmu
agar orang-orang menangis di
hari kematianmu sedangkan
kamu tersenyum bahagia “.

Perjalanan hidup manusia tergantung dari individu masing-masing. Apakah setelah menangis (waktu lahir) kemudian menangis lagi (waktu meninggal) ataukah menangis kemudian tersenyum bahagia (pada saat meninggal)? Jika yang terakhir, maka selama hidup di dunia ini berbuatlah kebaikan sesuai yang diperintahkan-Nya dan Rasul-Nya, maka insya Allah manusia pasti mendapatkan akhir yang baik, wafat dalam membawa iman ( حسن الخاتمة ). Manakah yang Anda pilih?

MASJID RAYA NURUL HIDAYAH
KAJIAAN BA’DA SHUBUH
OLEH : UST. DRS. H. MASYHURI HUSEIN, M.Ag

Leave a comment

Open chat
1
Assalamualaikum
Ada yang dapat kami bantu?