Hukum Sholat Berjama’ah Dalam Pandangan Empat Imam Madzhab

Ilmu Fiqih adalah cabang Ilmu yang paling pesat perkembangannya setelah masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Karena terkait langsung dengan permasalahan yang ada di masyarakat. Ilmu fiqih juga cabang Ilmu yang dinamis menjawab persoalan hidup manusia sesuai tingkatan zaman. Pada masa Nabi Muhammad SAW yang ada hanya perintah dan larangan. Setelah masa tersebut berlalu, para Ulama sebagai pewaris para Nabi ( العلماء ورثة الانبياء ) berijtihad menetapkan hukum yang ada di masyarakat ( muamalah ). Dalam hal ini, kita tidak bisa mengkotakan keberpihakan kepada siapa yang benar antara Al Qur’an, Hadits Nabi SAW dan Ulama. Karena semuanya saling terkait. Ulama dalam menetapkan hukum ,mengambil dan membedah berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW sebagai dalil dan pondasi keilmuan. Jadi tidak mungkin dipertentangkan.

Sebelum masuk pembahasan tentang hukum sholat berjama’ah dalam pandangan empat madzhab, ada baiknya kita mengetahui definisi dalam ushul fiqh mengenai istilah lima ketentuan hukum ( احكام الخمسة ) dalam syari’at Islam.

Pertama, fardhu ( wajib ).

الواجب ما يثاب على فعله ويعاقب على تركه

” Wajib adalah perbuatan yang diberi pahala jika dikerjakan, disiksa jika ditinggalkan “.

Kedua, sunnah.

المندوب ما يثاب على فعله و لا يعاقب على تركه

” Sunnah adalah perbuatan yang diberi pahala jika dikerjakan, namun tidak disiksa jika ditinggalkan “.

Ketiga, mubah.

المباح ما لا يثاب على فعله و لا يعاقب على تركه

” Mubah adalah perbuatan yang tidak diberi pahala jika dikerjakan dan tidak disiksa jika ditinggalkan “.

Keempat, Mahdzur ( Haram ).

” المحظور ما يثاب على تركه ويعاقب على فعله

” Mahdzur ( Haram ) adalah perbuatan yang diberi siksa jika dikerjakan dan diberi pahala jika ditinggalkan “.

Kelima, makruh.

المكروه ما يثاب على تركه ولا يعاقب على فعله

” Makruh adalah perbuatan yang diberi pahala jika ditinggalkan namun tidak disiksa jika ditinggalkan “.

Pandangan empat Imam madzhab mengenai hukum sholat berjama’ah :

• Madzhab Hanafi ( Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit ), Madzhab Maliki ( Imam Maliki bin Anas Al Ashbahy ) dan sebagian Ulama Syafi’i berpendapat hukum sholat berjama’ah adalah sunnah muakkadah ( سنة مؤكدة ).

الجماعة في الفرائض غير الجمعة سنة مؤكدة

” Hukum mengerjakan sholat fardhu berjama’ah selain sholat jum’at adalah sunnah muakkadah “.

Level hukum sunnah muakkadah adalah lebih tinggi dari sunnah biasa tetapi tidak sampai masuk derajatnya menjadi wajib.

Dalil hukum sunnah muakkadah sholat berjama’ah dalam hadits Rasululullah SAW dari Abdullah Ibnu Umar yang diriwayatkan Al Jama’ah ( Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat “.

Dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah, yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda ;

صلاة الجماعة افضل من صلاة الفذ بخمس وعڜرين درجة

“Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 25 derajat.”

Walaupun redaksi kedua hadits ini berbeda tentang tingkatan derajat orang yang sholat berjama’ah ada 27 dan 25 derajat. Pada hakikatnya adalah sama, karena cara pandang kita tidak boleh memilih dan mengangap satu hadits itu benar lalu mengabaikan keterangan hadits yang lain dalam permasalahan yang sama. Kaitan hadits kemulian derajat orang yang shalat berjama’ah antara 27 dan 25 derajat , tingkatan kedua hadits tersebut shohih. kemungkinan dalam kasus tertentu, Rasulullah SAW memberikan pendapatnya lebih dari satu.

Imam Nawawi ( Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawy ) pengarang kitab yang paling banyak dibaca dan dikaji oleh kaum muslimin setelah Al Qur’an, yaitu Riyadhus Sholihin ( رياض الصالحين ). Beliau berpendapat dalam kitab Majmu’ Syarah Muhazab , tidak ada pertentangan antara hadits yang menyebutkan 27 derajat dan 25 derajat.

Dalil lain yang menguatkan hukum sunnah muakkadah sholat berjama’ah ;

” Sholat berjama’ah termasuk sunnah Rasulullah SAW yang tidak ditinggalkan kecuali oleh orang munafik “.

• Madzhab Syafi’i ( Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i Al Quraisy ) hukum sholat berjama’ah adalah fardhu kifayah ( فرض كفاية ).

Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan shalat berjama’ah, maka berdosalah semua orang yang ada di situ. Hal itu karena shalat berjama’ah itu adalah bagian dari syiar agama Islam.

Dalil hukum fardhu kifayah shalat berjama’ah , Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan Imam Abu daud dan An Nasai dari Abu Darda RA ;

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاء رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُوْلُ : مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ ، وَلاَ بَدْوٍ ، لا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ . فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ القَاصِيَة( رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ )

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah terdapat tiga orang di satu desa atau kampung yang tidak ditegakkan shalat di sana kecuali mereka telah dikalahkan oleh setan. Maka haruslah bagi kalian untuk berjama’ah, sebab serigala hanya akan memakan domba yang jauh dari kawanannya.’” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan) [HR. Abu Daud, no. 547 dan An-Nasa’i, no. 848. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]

• Madzhab Hanbali ( Imam Ahmad bin Hanbal As Syaibani ) hukum shalat berjama’ah adalah fardhu ‘ain ( فرض عين ).

Fardhu ‘ain adalah beban hukum yang menjadi tanggung jawab individual dan tidak bisa diwakilkan. Jika pribadi tersebut tidak menjalankan sholat secara berjama’ah berarti ia telah berdosa. Tetapi menurut Imam Hanbal sholat orang itu tetap sah hanya saja sholat sendirian yang dilakukan berdosa bagi dirinya.

Dalil hukum fardhu ‘ain sholat berjama’ah menurut Imam Hanbal terdapat dalam firman Allah SWT ;

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

” Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ “. ( Q.S Al Baqarah:43).

Ayat di atas merupakan perintah. Kata perintah menunjukkan maksud kewajiban shalat berjama’ah terdapat pada “…dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ “.

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

” Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan se-raka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap-siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu “. ( Q.S. An Nisa :102).

Dalam ayat ini terdapat dalil yang tegas mengenai kewajiban shalat berjama’ah terdapat dalam shalat khauf ( shalat dalam peperangan yang penuh rasa ketakutan ). Menurut Imam Hanbal , shalat berjama’ah dalam rasa takut saja tetap dijalankan apalagi dalam keadaan aman.

Demikian pandangan empat Imam madzhab mengenai shalat berjama’ah.
Salah satu adab dalam bermadzhab adalah saling menghargai perbedaan dalam masalah furu’ (cabang agama), tidak ngotot memaksakan pendapatnya dalam masalah furu’ apalagi hingga menyalahkan, sebab diantara ulama pun terjadi perbedaan (khilafiyah) dan mereka tetap bisa saling memahami pendapat ulama lainnya bahkan diantara mereka saling memuji.
Bukan perbedaan yang jadi permasalahan. Karena dalam ilmu fiqih tidak akan semua sama dan seragam dalam menetapkan hukum yang menyangkut hubungan kehidupan manusia.
Semua itu harus dipahami dengan ilmu. Sebab jika nalar didahulukan yang ada hanya kesesatan. Sekalipun Ibadah itu dilakukan kebetulan benar tapi tanpa didasari ilmu, menjadi sia-sia tidak diterima Allah SWT.

Larangan Allah melakukan segala sesuatu tanpa didasari Ilmu ;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

” Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya “. ( Q.S. Al Israa : 36 )

Dan perintah Allah SWT untuk menuntut Ilmu dengan bertanya kepada ahlinya jika tidak mengetahui suatu perkara.

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui “. ( Q.S. An Nahl : 43 )

Ulama telah menjelaskan tentang hukum sholat berjama’ah , baik yang berpendapat sunnah muakkadah, fardhu kifayah hingga ada yang mewajibkan ( fardhu ‘ain ). Inti dari semua itu, bahwa sholat berjama’ah sangat dianjurkan karena begitu banyak kebaikan di dalamnya.

 

KAJIAN BA’DA MAGHRIB
MASJID RAYA NURUL HIDAYAH
OLEH : UST. DR. FAHRUROZI M BUKHORI, MA.
TEMA : HUKUM SHOLAT BERJAMA’AH DALAM PANDANGAN EMPAT IMAM MADZHAB
Selasa, 31 Desember 2019.

Leave a comment

Open chat
1
Assalamualaikum
Ada yang dapat kami bantu?